Menumbuhkan Iklim Kerja Melalui Konsep Filosofi Semut

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam sehat, salam literasi

Di dalam Al-qur’an cukup banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk selalu mengamati, menganalisis sesuatu agar manusia dapat mendatangkan manfaat atau kebaikan pada diri dan lingkungannya. Namun kemampuan literasi masyarakat masih cukup rendah yang ada justru sikap individualitas dan sikap apatis yang lebih diutamakan, sehingga terkesan manusia melupakan kodratnya sebagai seorang khalifah di muka bumi ini. Selanjutnya Al-qur’an telah menjelaskan beberapa faktor terpenting yang menghalangi manusia untuk berpikir rasional dan sistematis. Menurut Najati (1997) ada beberapa faktor yang dapat menghalangi manusia untuk berpikir kritis, objektif dan sitematis, diantaranya; 1) menggunakan pola pikir lama, 2) kurangnya data/ilmu, 3) pengaruh emosi dan perasaan. Sedangan menurut Al Syairazi dalam kitabnya Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibn Abbas (tt). al-Quran menyebut orang yang mampu berpikir rasional dan sistematis dengan sebutan “Ulul albab”. Secara etimologi, ulul albab adalah ashabul uqul, yakni manusia yang menggunakan akal pikiran dan hatinya. Dalam al-Quran, kata ulul albab terulang sebanyak 16 kali.

Salah satu bukti rasionalitas al-Qur’an yakni kemampuan mengungkapkan informasi yang detil tentang seekor binatang yang cukup kecil, namun binatang tersebut telah diabadikan namanya di dalam al-Qur’an yaitu surah an-Naml. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata an-Naml berarti semut. Penyebutan kata An-Naml, dapat dilihat Qs. 27 ayat; 18. Sejumlah literatur menyebutkan bahwa kejadian tersebut terjadi pada musim panas, kala itu kawanan semut tengah gencar keluar sarang untuk mencari dan mengumpulkan makanan. Kemudian salah seekor semut yang ternyata merupakan semut pengintai memberitahu kawanannya yang lain untuk segera kembali menuju sarang karena ia melihat kedatangan nabi Sulaiman dan bala tentaranya dengan sigap, salah satu diantara semut yang menginformasikan kepada kawanan semut bahwa pasukan nabi Sulaiman akan semakin dekat, meskipun nabi Sulaiman tidak berniat menginjak ataupun menyakiti kawanan semut tersebut, namun dapat dipastikan bahwa kawanan binatang kecil tersebut akan terinjak jika tidak segera menghindar. Hal ini menandakan bahwa betapa pentingnya sebuah strategi, namun jika kita mencoba melakukan pengamatan (observasi) pada semut, maka semut memiliki beberapa karakteristik dan keistimewaan, diantaranya sebagai berikut:

  1. Semut amat tertib dan disiplin; Sangat jarang kita menemukan semut berjalan seorang diri, namun semut selalu beriringan dengan sangat rapi dan tertib.
  2. Semut sangat produktif, organisator dan hidup rukun; Dapat kita amati bahwa dalam satu komunitas, semut bisa terdiri dari ratusan bahkan ribuan. Dengan jumlah yang demikian banyak, mustahil mereka bisa memberlakukan berbagai sistem yang bekerja dengan efisien. Jika kita cermati secara detil, maka kita dapat menyaksikan bahwa pembagian tugas atau kinerja para semut sangat sistematis bahkan semut bekerja sesuai dengan tupoksinya.
  3. Semut sangat responsif, komunikatif dan kolaboratif; Salah satu tradisi semut, ketika ada semut yang kenyang kemudian menemukan temannya yang kelaparan, ia dengan sigap (respons) memberikan sari-sari dalam tubuhnya pada temannya yang kelaparan. Selain itu, setiap kali semut bertemu antar sesama semut, ia selalu menyapa (komunikatif) antara semut yang satu dengan semut yang lainnya. Selain itu kita sering melihat beberapa semut bekerja sama dalam menggotong makanan yang mereka dapat untuk dibawa menuju sarang (wujud kolaboratif).

Semoga seluruh sivitas akademika STITEK Bontang akan mampu meneladani sikap dan karakteristik semut sehingga akan tetap menjadi tim yang solid serta ikut menjadi bagian dari perubahan yang akan menghantarkan STITEK menjadi salah satu institusi yang unggul.
Salam sehat, salam literasi
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Penulis: Zulkifli, S.Pd.I., M.Pd. (Act. Kep. Unit Jaminan Mutu STITEK Bontang)